نْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَ إِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ الْأَاخِرَةِ لِيَسُۥٓئُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرً
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isra: 7)
Allah SWT sudah menetapkan bahwa kita sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda dengan manusia lainnya. Dengan adanya perbedaan, mengakibatkan kegiatan dan rutinitas selama hidup didunia menjadi beragam. Kehadiran kaum dhuafa di kehidupan masyarakat adalah realita hidup.

Kata dhuafa berasal dari dh’afa atau dhi’fan yang terdapat dalam (QS: An-Nisa:9)
“Dan hendaklah takiut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah (dhi’afan), yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”
ang berarti lemah dalam kesejahteraan dan finansial. Di dalam Al-Qur’an, terdapat beberapa orang yang termasuk ke dalam kaum dhuafa, di antaranya adalah orang-orang miskin, hamba sahaya, kaum difabel, orang lanjut usia, janda miskin, orang dengan penyakit tertentu, buruh, rakyat kecil, dan korban bencana.
Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang masih sering di hadapi oleh berbagai kalangan masyarakat. Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana manusia atau kelompok orang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, Pendidikan, dan Kesehatan.

Dengan demikian, manusia harus saling membantu, tolong menolong, dan peduli terhadap sesame. Dalam mengupayakan kepekaan terhadap kaum dhuafa, kita dapat memberikan bantuan dengan menyisihkan Sebagian rezeki yang kita punya.