IMAM SHAMSI ALI SEBAGAI NARA SUMBER DI ACARA DIALOG ANTAR AGAMA DI PBB NEW YORK US.
Kiriman Khabar dari New York City oleh Ust.Imam Shamsi Ali
New York City Builds Bridges, NOT Walls!
Last Friday, March 27th, I had the honor of speaking at an Eid al-Fitr celebration hosted by the United Democratic Clubs and South Asian and Caribbean Democratic Clubs. The event brought together prominent figures and activists from the New York Democratic Party, as well as several City and State officials, including City Comptroller Levine, State Senator John Liu, and others.
Jumat lalu, 27 Maret, saya mendapat kehormatan untuk berbicara dalam perayaan Idul Fitri yang diselenggarakan oleh United Democratic Clubs serta South Asian and Caribbean Democratic Clubs. Acara tersebut mempertemukan tokoh-tokoh terkemuka dan para aktivis dari Partai Demokrat New York, serta beberapa pejabat Kota dan Negara Bagian, termasuk City Comptroller Levine, Senator Negara Bagian John Liu, dan lainnya.

Berikut ringkasan pidato saya:
Sebuah kebahagiaan besar dapat bergabung dalam perayaan Idul Fitri New York Democratic Club, sebuah bukti nyata yang hidup tentang kekuatan komunitas dan iman. Saat saya berdiri bersama para pejabat terpilih yang terhormat, termasuk City Comptroller Levine dan Senator Lui, saya diingatkan akan nilai-nilai yang mempersatukan kita.
Ramadan, bulan suci puasa dan refleksi, telah berakhir, dan kita berkumpul untuk merayakan Idul Fitri, waktu penuh kegembiraan dan pembaruan. Periode introspeksi spiritual ini merupakan kesempatan untuk bertumbuh, sebuah peluang untuk menumbuhkan kesadaran diri dan pengabdian kepada kekuatan yang lebih tinggi.
Pengalaman Ramadan seharusnya menginspirasi tiga hasil penting:
- Revitalisasi Spiritual: Hakikat spiritual kita mendefinisikan kita sebagai manusia. Dengan memelihara sisi spiritual kita, kita menyeimbangkan godaan materialisme dan kebanggaan fisik (rasisme).
- Penemuan Kembali Kemanusiaan: Islam mengajarkan bahwa kita diciptakan dari satu jiwa, menekankan kemanusiaan kita yang sama. Kesadaran ini menumbuhkan solidaritas dan kasih sayang, mengingatkan kita bahwa serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua.
- Pembangunan Komunitas: Keberagaman kita adalah kekuatan, bukan kelemahan. Dengan merangkul perbedaan kita, kita membangun jembatan pemahaman (bukan tembok) dan solidaritas, berdiri bersama sebagai komunitas yang bersatu.
Saat kita merayakan Idul Fitri, mari kita membawa prinsip-prinsip ini ke depan, berusaha menjadi manusia yang lebih baik, dan membangun dunia di mana cinta, kasih sayang, dan persatuan berjaya.
(Shamsi Ali Al-Nuyorki)
